Affection and Love is a mandatory needs. But we Don’t have to be hurry to find them.
Dalam setiap hubungan pasti ada permasalahan yang terjadi. Entah itu hubungan pertemanan, pertemanan spesial (pacaran) bahkan hubungan keluarga pun pasti ada masalah.
Entah kenapa itu bisa terjadi. Padahal kan pada dasarnya hubungan itu bisa terbentuk dari adanya rasa “saling” satu sama lain. Saling mengerti, saling perhatian, saling percaya dan rasa-rasa lainnya. Tapi ngga sedikit yang karena ego dan gengsi, semua yang udah kita bangun itu bisa sia-sia rampung gitu aja. Bahkan yang paling menyedihkan adalah bukan hanya status hubungan saja yang hilang tapi silaturahmi kita sesama manusia juga bisa berakhir gitu aja.
Manusia terkadang belum bisa menerima segala hal yang terjadi terhadap dirinya. Mungkin butuh waktu untuk mengerti, menjadi lebih dewasa dan menerima semuanya dengan lapang. Bukan berarti kita putus asa, tapi apakah akan jadi lebih baik kalo kita terus terlarut dengan masalah yang ada dan menghindar begitu saja ?
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Hanya saja terkadang kita terlalu malas untuk mencari jalan tersebut. Bagaimana bisa urusan dan masalah kita selesai kalo kita sendiri saja malas untuk mencari jalan keluarnya ? Atau Ingin mereka lenyap ditelan waktu ? Jangan harap itu terjadi. Masalah yang didiamkan terlalu lama akan menimbulkan banyak asumsi, dan asumsi itu memperburuk keadaan. Alangkah baiknya jika masalah itu dibicarakan dengan orang yang bersangkutan dan cari jalan keluarnya bersama-sama. Karena hanya yang bersangkutan-lah yang tau detail-detailnya.
Komitmen untuk tetap berkomunikasi itulah yang terpenting. Usaha dan kemuauan adalah dasar dari semua itu. Di agama pun diajarkan kalau silaturahmi sesama manusia itu penting bukan. jangan sampai ego, gengsi dan pemikiran yang sebenarnya harus ditinggalkan menjadi penghalang perintah Tuhan yang satu ini.
*Every relationship must have begun with good things, and something that was started with good things should be end with good things too :)
Judulnya emang aneh tapi saya punya artian sendiri kenapa judulnya seperti itu :p
“Jangan menilai buku hanya dari covernya saja.”
Ya ini memang benar. Anda harus membaca, mengerti dan memahaminya. Setelah itu Anda bisa memutuskan untuk membuangnya atau akan menyimpannya sebagai barang yang berharga.
There’s a lot of unspoken things. We could write it on something like papers, blogs, books, stones, walls or anything else. But sometimes it’s highly better to talk it over.
Hidup itu kaya naikroller coaster.kadang diatas, kadang dibawah. Semua tergantung kita. Apakah kita akan berteriak atau menikmati setiap perjalanan yang kita lewati.
Menyedihkan rasanya melihat seorang teman yang sudah berumur tetapi masih berpikir layaknya seorang anak-anak. Ya bisa dibilang childish.
Kita semua memang dilahirkan sebagai anak-anak terlebih dahulu. Tapi seiring berjalannya waktu kita semua akan tumbuh menjadi manusia yang lebih matang dan dewasa. Banyak teman-teman sekitar saya yang sudah beranjak besar tapi malah ingin menjadi anak kecil kembali. Kan konyol jadinya, waktu kecil kita pengen cepet besar tapi udah besar malah pengen jadi anak kecil lagi. Tanda Tanya besarlah disimpan disini.
Sifat anak-anak memang banyak kaya innocent, pure, honest dan blablabla. Tapi Childish punya konotasi yang negatif. Karena sifat-sifat lainnya seperti manja, self-centered, irresponsible dll yang masih melekat pada orang yang sebenarnya sudah harus mengurangi atau bahkan menghilangkan porsi-porsi tersebut di kehidupan yang sudah dewasa. Perlu diketahui juga kalau sifat childish ini bisa merusak masa depan orang tersebut karena untuk menjadi dewasa yang sukses, pantang sekali punya sifat yang satu ini. Bahkan tidak ada yang ingin menjadi pasangan hidup. karena pada dasarnya tidak ada yang ingin menikahi anak kecil kan ? apa bedanya dengan menikahi orang yang sudah besar tapi sifatnya masih seperti anak kecil ?
Kembali ke teman saya yang satu ini. Saya deskripsikan dulu deh ya. Dia seorang wanita, seorang anak bungsu dari tiga bersaudara, keadaan ekonomi yang mapan, pintar dan hidup di lingkungan yang multi-pergaulan. Saya kenal dia cukup lama dengan relasi yang dekat bahkan sempat menjadi sangat dekat. Yang bisa saya simpulkan dan saya nilai selama menjadi bagian dari hidup dia adalah……Ya Dia masih memiliki sifat childish yang dominan. Entah apa sebabnya.
Hal pertama adalah MANJA. Mungkin karena dia bungsu, tapi ya yang namanya manja itu ada tempat dan waktunya, ga selalu harus seperti itu. Manja dikit depan pacar sih oke tapi kalo manja ke semua orang kan kesannya jadi ngebuka hati buat para cowo pencari cewe (oopsi). Yang kedua adalah IRRESPONSIBLE. Dia kurang bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan, dan yang lebih parah malah menyalahkan orang yang bersangkutan atau bahkan orang lain. Saya pun tau kalau dia terkadang menutupi kesalahannya dengan kebohongan-kebohongan yang dia buat agar dia terlihat tidak bersalah. Intinya dia tidak mau mengakui kesalahan yang telah dia perbuat.
Ketiga adalah SELF-CENTERED. Dia selalu ingin apa yang dia inginkan itu bisa terkabul dan tidak mandiri. Kaya bayi aja. Bahkan kalau keingingannya tidak terkabul dia bisa marah besar. Keempat adalah IMAGINATION. Terlalu banyak berkhayal yang terlalu jauh tanpa melihat apa yang ada pada realita yang ada. Sehingga malah jadi kaya orang yang terlalu berharap banyak tentang suatu hal dan seperti orang yang hilang akal (oopsi maaf).
Kelima adalah MOODY. Gampang terbawa suasana yang ada di sekitar atau suasana di masa lalu yang ngga bisa dilupain sampai saat ini. Misalnya kejadian-kejadian buruk dengan seseorang di masa lalu atau suasana saat dia bertemu orang yang tidak dia harapkan. Keenam adalah LOVE TO PLAY ARROUND. Dia hanya ingin bersenang-senang tanpa memikirkan apa dampak yang akan terjadi pada dirinya maupun orang yang ada disekitarnya. Sehingga tak jarang orang menilai buruk dirinya karena hal yang dia lakukan. Jadi dia hanya melakukan apa yang dia mau tanpa tau manfaat, dampak dan perlu atau tidaknya dia melakukan hal tersebut. Tidak berpikir jangka panjang.
Yang Keenam adalah TOO LAZY TO THINK. Dia tidak mau memikirkan hal-hal yang rumit tentang hidupnya seperti mencari solusi untuk suatu masalah. Jadi dia cenderung lari dari masalah tanpa ada usaha untuk menyelesaikannya, cenderung menjadi plin-plan dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Selain itu dia menjadi mudah terpengaruh oleh opini-opini temannya yang belum tentu benar karena temannya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Inilah yang paling saya prihatinkan. Dia tidak percaya diri.
Yang terakhir adalah RASA TAKUT. Saat ini dia seperti orang yang terbatasi dalam melakukan tindakan, terbatasi karena rasa takut yang terlalu. Rasa takut untuk gagal, takut terjerumus ke hal yang negatif, takut menghadapi masalah, takut mengambil resiko bahkan takut untuk menghadapi seseorang.
Mungkin dia belum menganggap dirinya sebagai manusia yang seharusnya mereduksi sifat-sifat tersebut. Tapi terlambat untuk menjadi mature kan tidak baik. Saya hanya bisa berusaha untuk memberitahu dia supaya bisa mereduksi sifat-sifat tersebut. Tapi dia selalu menghindar dari saya setiap saya ajak untuk bicara. Entah apa sebabnya. Mungkin karena takut untuk menghadapi saya atau terlalu malas untuk berpikir, malas untuk introspeksi diri dan merubah segala yang ada pada dirinya atau apapun itu. Kalau memang dia bisa sadar dengan sendirinya itu bagus. Tapi kalau lingkungan tidak mendukung untuk berubah menjadi dewasa secara alami ya memang harus ada yang memberitahunya.
Saya sudah berusaha untuk berbicara langsung tapi didak bisa. Berbicara secara tidak langsung lewat yang saya utarakan di social network malah disangkannya nyepet dia dan menjelek-jelekan atau malah disangka bertujuan untuk misi yang lain. Susah memang menghadapi manusia dewasa yang belum dewasa (rancu). Saya sudah cukup sabar menghadapi dia. Dan sampai saat saya menulis catatan inipun dia masih belum sadar dan belum ada perubahan untuk menjadi lebih dewasa. Diajak untuk bicara saja tidak mau, selalu beralasan. Menyedihkan memang melihat orang yang kita sayangi mengalami hal ini.
Tapi tak peduli dia mau menganggap saya sebagai apa. Entah itu, orang yang suka ngejudge, yg suka ikut campur hidup orang atau apapun itu dalam konotasi yang negatif. Yang pasti saya sudah berniat baik untuk melakukan hal ini tanpa pamrih apapun dan saya melakukan ini berlandaskan rasa sayang saya untuk dia agar dia bisa menjadi seseorang yang lebih dewasa dan yang pasti lebih baik dalam mengatur dirinya sebagai siapa dia berperan. Memang pilu rasanya saat niat baik kita diartikan sebagai hal buruk oleh orang lain. Tapi tak apa. Ini semata-mata demi masa depannya nanti. Karena ingat ! Untuk menjadi manusia yang sukses, pantang untuk memiliki sifat kekanak-kanakan ini. :)